Fase kanak-kanak merupakan tempat yang subur bagi pembinaan dan
pendidikan. Masa kanak-kanak ini cukup lama, dimana seorang pendidik
bisa memanfaatkan waktu yang cukup untuk menanamkan dalam jiwa anak,
apa yang dia kehendaki. Jika masa kanak-kanak ini dibangun dengan
penjagaan, bimbingan dan arahan yang baik, dengan izin Allah subhanahu
wata’ala maka kelak akan tumbuh menjadi kokoh. Seorang pendidik
hendaknya memanfaatkan masa ini sebaik-baiknya. Jangan ada yang
meremehkan bahwa anak itu kecil.
Mengingat masa ini adalah masa emas bagi
pertumbuhan, maka hendaknya masalah penanaman aqidah menjadi perhatian
pokok bagi setiap orang tua yang peduli dengan nasib anaknya.
Pernahkah para ummahat mengunjungi situs http://bam.raudhatulmuhibbin.org?
Yup, di sanalah kita akan menemukan BAM, singkatan dari Bacaan Anak
Muslim. Pertama kali saya berkunjung ke situs ini, tersirat dalam benak
saya, “Wah, cocok sekali dengan jurusan kuliah saya..” Dan akhirnya saya
pun jatuh cinta dan banyak mendownload file-file yang diupload di situs
ini untuk dimanfaatkan saat ini maupun nanti.^^
Untuk mengenal lebih lanjut apa itu BAM dan apa saja yang ada di sana,
yuk kita baca deskripsi yang saya ambil dari situs BAM sendiri!
Jadwal belajar anak ini bisa dilakukan di rumah, atau diterapkan di
sekolah. kurikulum atau materinya bisa ambil di draft kurikulum pada
postingan sebelumnya.
Nb: Jika jadwal ini diterapkan di rumah maka bisa lebih fleksibel
waktunya. bisa siang atau sore menyesuaikan jadwal bundanya. tetapi
tetap perhatikan keefektifan jam belajar.
Berhubung habis baca 10 tips Homeschooler dari milis Home-Ed dimana salah satu point anjurannya kepada keluarga homeschooler adalah “Learn All You Can About Learning Styles.” Saya berusaha menambah ilmu saya mengenai learning style anak-anak kami.
Ada satu buku bagus yang saya dapat mengambil manfaatnya mengenai gaya belajar. Salah satunya adalah buku “Temukan dan lesatkan Kelebihanmu Anakku!”
karya Dawna Markova, Ph.D. Sebenarnya ada juga banyak buku sejenis
mengenai gaya belajar, tetapi entah mengapa ketika membaca buku ini saya
merasa lebih siap menerima informasi didalamnya, jadi rasanya lebih
pas.
Nama-nama yang makruh untuk diberikan kepada bayi:
Dimakruhkan memberi nama yang mengandung arti keberkahan, kebaikan atau yang menimbulkan rasa optimis, seperti nama Aflaha (beruntung), Naafi‘ (bermanfaat), Rabaah (keuntungan), Yasaar
(kemudahan) dan lain-lain. Fungsinya agar tidak menimbulkan ganjalan
dalam hati ketika yang dipanggil tidak berada di tempat sehingga
dikatakan, “;Tidak ada”, sehingga seakan-akan mengatakan bahwa
(misalnya) “Keberuntungan tidak ada”.Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,
“Jangan kalian namai hamba sahaya (atau anak) kalian dengan nama
Yasaar, Rabaah, Najiih dan Aflaha. Sebab apabila kamu bertanya,
“Apakah dia ada?” Jika ternyata tidak ada maka akan dijawab, “Tidak
ada.” (HR. Muslim no. 2137)
Maksud hadits di atas adalah misalnya apabila si hamba bernama Rabaah
(beruntung), lalu ditanya, “Apakah Rabaah (keberuntungan) ada di
sana?” Jika ternyata tidak ada maka akan dijawab, “Rabaah tidak ada
(tidak ada keberuntungan).” Oleh karena itu nama seperti itu
dimakruhkan.
Pembelajaran anak di rumah berbeda dengan di sekolah. Pembelajaran
di sekolah terikat dengan tempat, waktu, jadwal, kurikulum, dan
seterusnya. Adapun mendidik anak di rumah berlaku setiap hari, bahkan
setiap saat. Mengandaikan pendidikan anak sebagai prosedur khusus yang
memerlukan waktu-waktu khusus, akan banyak menyita kesempatan orang
tua. Mendidik anak menjadi tak alamiah dan tak menggembirakan.
Sebaliknya terkesan sebagai beban, baik bagi anak maupun orangtua.
Mendidik anak jadi seperti kursus dengan paket-paket yang dikemas dalam
sebuah kurikulum dengan anak sebagi peserta wajib dan orangtua guru
resminya. Kita sadar bahwa tidak semua orangtua mempunyai kapasitas dan
kesempatan untuk itu. Ditambah lagi banyaknya faktor pendukung yang
diperlukan.
Anak-anak mudah terpengaruh dengan sesuatu yang dia lihat atau
dengar. Sayang sekali, seringkali sesuatu yang mereka lihat atau dengar
banyak didapatkan dari televisi atau tontonan yang kurang mendidik
sehingga tentu saja mau tidak mau berpengaruh ke jiwa. Salah satu hal
yang kami coba lakukan untuk memberi tontonan yang baik adalah memainkan
video-video anak-anak penghafal Al-Qur’an kepada anak-anak.
Bayi Thoriq yang kini berusia 1, 5 tahun yang mulai suka “menonton”,
alhamdulillah juga menerima ketika dipasangkan video-video yang
menampilkan anak-anak yang membaca Al-Qur’an ini.
Saudariku muslimah…permasalahan ini termasuk masalah yang wajib
dipahami oleh setiap orangtua. Sikap yang diambil tentunya beragam
sesuai dengan kesalahan yang dilakukan anak. Perlu diperhatikan apakah
anak memahami kesalahan itu dan mengetahui dosa dan bahayanya ataukah
tidak? Keutamaan berlemahlembut
Rasulullah shallallahu’alaihi wasallam bersabda,
“Tidaklah kelemahlembutan ada pada sesuatu kecuali akan
menghiasainya dan tidaklah dicabut darinya melainkan akan memperjeleknya
” (HR. Bukhari 2594 dair ‘Aisyah radhiallahu’anha)
Orangtua sebagai pendidik utama bagi anak-anaknya harus memiliki
sifat-sifat yang utama pula, agar kita meraih keberhasilan dalam
pendidikan anak-anak kita. Meskipun mungkin hal tersebut sulit, namun
kita harus berusaha semaksimal mungkin untuk memiliki sifat-sifat
tersebut, sebab kita akan menjadi fokus teladan pendidikan bagi generasi
baru, paling tidak sebagi fokus teladan bagi anak-anak kita. Mereka
akan senantiasa menyorot kita selaku seorang pendidik dan pembimbing,
karena kitalah contoh nyata yang mereka saksikan dalam kehidupan mereka.
Berikut beberapa karakter yang harus dimiliki orang tua…
Dari Rubayyi’ binti Mu’awwidz; dia berkata, “Rasulullah mengutus
untuk mengumumkan pada pagi hari asyura’ di wilayah kaum Anshar yang
berada di sekitar kota Madinah.
من كان أصبح صائما فليتمّ صومه ومن كان أصبح مفطرا فليتمّ بقية يومه
‘Barang siapa yang pagi hari ini berpuasa, hendaklah
menyelesaikannya. Barang siapa yang tidak berpuasa, hendaknya menahan
(makan dan minum) sampai malam.’
Setelah adanya pengumuman itu, kami berpuasa dan mengajak anak-anak
untuk melaksanakan puasa. Kami juga mengajak mereka ke masjid dan
memberikan mereka mainan dari kulit (wol). Jika mereka menangis karena
lapar, kami menyodorkan mainan sampai waktu berbuka puasa tiba.” (HR
Bukhari dan Muslim)